Ketua Fraksi PA Rusyidi Buka Diskusi Publik Perempuan Harus Berpolitik


author photo

24 Des 2017 - 20:20 WIB


NET ATJEH, BIREUEN --- Rusyidi Mukhtar S. Sos Ketua Praksi Partai Aceh (PA), resmi membuka acara diskusi publik di aula salah satu hotel di peusangan. Matangglumpangdua, Bireuen.

Acara tersebut guna menyambut hari Ibu ke-89 yang diselenggarakan Pemuda Partai Aceh (PPA) Kabupaten Bireuen, Minggu (24 Desember 2017).

Ketua Praksi Partai Aceh Rusyidi Mukhtar S, Sos yang akrap disapa Ceulangiek dalam penyampaian materinya betapa pentingnya melek politik demi tercapainya hak perempuan, menyebutkan, banyak perempuan Aceh dulu yang hebat dan jadi pejuang.

Dia berharap, di masa kini, perempuan juga harus mampu tampil dan melakukan hal yang bermanfaat bagi masyarakat, termasuk dalam politik kedepannya.

Pria yang akran disapa Ceulangiek  itu mengingatkan, bila ikut dalam politik harus mencapai tujuan, perempuan tak hanya ikut dalam kampanye saja, tapi harus hadir pada hari pemilihan untuk memilih calegnya, termasuk memilih caleg perempuan terang ceulangiek.

"Saya berharap ada perempuan di parlemen pada tahun 2019, karena perempuan itu bisa membawa kesejukan. Saya harap ibu Muazzinah mewakili perempuan pada 2019 untuk DPRA," kedepan harap  Ceulangiek.

Ketua Fraksi Partai Aceh itu mendukung penuh perempuan menjadi caleg dan anggota dewan kedepan.

Diskusi publik tersebut juga dihadirkan pemateri lainnya Muazzinah Yacob B.Sc., MAP, akademisi, menyampaikan dengan tema kenapa perempuan harus berpolitik.

Dalam paparan materi, Muazzinah antara lain menyampaikan Dana Desa selama ini digunakan untuk pembangunan fisik, jarang ada desa yang anggaranya dana itu untuk  beasiswa untuk anak-anak dan perempuan.

Perempuan harus tahu dan memahami politik, karena untuk kesehatan perempuan, untuk ibu hamil, anak-anak, perempuan yang lebih mengerti dan memahaminya terang muazzinah.

"Kita berharap, anggota legislatif 30 persen dari perempuan, tak hanya sebagai calon legislatif saja, tapi harus jadi anggota dewan kedepan ," harapnya.

Ada stigma perempuan tidak boleh berpolitik. jangan memilih perempuan, padahal belum tentu perempuan tak punya kemampuan dan kapasitas. Bahkan lebih dari perempuan, juga ada yang menyebutkan,  perempuan tak boleh jadi pemimpin katanya.

"Selain itu, kaum perempuan juga kadang tak mau memilih perempuan menjadi anggota dewan, mereka lebih memilih kaum lelaki. Bahkan, ada sebagian dari perempuan yang mempunyai sifat iri dan dengki, " ungkapnya.

Perempuan harus terjun dalam politik, karena ada beberapa faktor, diantaranya faktor sosial, faktor keluarga, faktor Sumber Daya Manusia yang dimiliki serta faktor pendidikan.

"Perempuan jangan mau jika dalam partai hanya jadi pelengkap penderita, dipakai hanya karena cantik saja, untuk mencukupi kuota. Tapi perempuan yang terlibat partai politik harus mempunya sumber daya manusia yang mampu," jelasnya.

Peran domestik, yaitu menjalankan pekerjaan rumah tangga, berkutat didapur, kasur dan sumur.

Selanjutnya, peran membantu  ekonomi keluarga dan peran sosial, dalam bermasyarakat, berkomunitas, seperti ikut arisan.

Rapat gampong, harus mengikutsertakan perempuan, jangan didiskriminasikan perempuan dalam pengambilan keputusan gampong.

Solusinya, pemerintah harus memberikan pendidian politik bagi perempuan di kecamatan. dan Desa, Selain itu, partai politik juga harus dan wajib memberikan pendidikan politik untuk perempuan.

"Yang terpenting, perempuan harus sadar diri sendiri, harus mampu belajar sendiri tentang politik,  mencari tahu tentang politik. Jadi keterlibatan perempuan di politik sangat penting, tak hanya sekedar memberi warna atau pelengkap pemderita semata," pungkasnya.

Diskusi publik tersebut diikuti seratusan peserta, yang didominasi oleh perempuan dari sejumlah unsur parempuan Partai Aceh, mahasiswi, ormas, OKP dan LSM. (MS)

KOMENTAR