Petani Garam Jangka Sangat Kecewa Atas Pernyataan LPPOM - MPU


author photo

14 Des 2017 - 09:04 WIB


NET ATJEH, BIREUEN --- Masyarakat Petani Garam Desa Tanoh Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen sesalkan Pernyataan Kepala Lembaga Pengkajian Pangan, Obat obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang menyatakan mayoritas garam bernajis.

Pernyataan tersebut berefek kepada Petani garam tradisional khusus petani garam yang ada di Desa Tanoh Anoe Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen. 

Hal tersebut dikatakan Marwan Assalam selaku Keuchiek Gampong Tanoh Anoe kepada Media Net Atjeh, Kamis 14 Desember 2017.

Marwan mengatakan, pernyataan Kepala LPPOM MPU Aceh sangat melukai hati Petani garam yang ada di Desanya, bahkan pernyataan tersebut telah mengkerdilkan petani garam tradisional yang mayoritas adalah Masyarakat miskin.

Lanjutnya, sebaiknya LPPOM MPU Aceh terjun langsung ke lapangan untuk mengsurvey atau melihat langsung proses pengolahan Garam, supaya mengetahui kepasitas halalnya. 

"Jangan asal mengeluarkan stadmen yang merugikan petani garam tradisional yang mayoritas masyarakat miskin," imbuhnya. 

"Kami merasa kecewa dengan pernyataan LPPOM MPU Aceh yang telah menjatuhkan kualitas garam yang pengolahannya secara tradisional tanpa meninjau langsung ke lapangan dan dengan gamblang menyatakan garam yang tidak memiliki sertifikat halal itu bernajis," jelasnya. 

"Pernyataan LPPOM MPU Aceh tersebut adalah salah satu indikator untuk membunuh perekonomian Masyarakat kecil. Dan telah merendahkan kualitas produksi garam lokal khususnya produksi garam tradisional yang ada di Desa Tanoh Anoe kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen," katanya. 

Petani garam tradisional di Desa tanoh Anoe mulai resah sejak pernyataan LPPOM MPU Aceh tersebut, dan sangat menyesali dengan pernyataan telah dikeluar tanpa mengkoordinasi terlebih dahulu dengan para petani garam. Seharusnya LPPOM MPU Aceh harus mengkaji lebih dalam tentang Pernyataan bahwa Garam tradisional tersebut bernajis seperti yang dikeluarkan pada edisi Serambi 13 Desember 2017 kamaren. 

"Seharusnya pihak LPPOM MPU sebelum mengeluarkan pernyataan tersebut harus lebih jeli meneliti langsung ke lapangan untuk mengambil sampel secara langsung, bagaimana pengolahan garam tradisional yang ada di Desa Tanoh Anoe, karena Pengolahan garam tradisional tersebut menggunakan bahan baku (bibit) yang di ekspor dari Madura."

Hal ini jelas membuat para petani garam kelompok kecil menengah menjadi khawatir terhadap mata pencahariannya sehari-hari mereka. Oleh karena itu kami meminta kepada pihak Dinas terkait untuk mereview kembali terhadap statemen yang telah dikeluarkan tempo hari. 

"Karena selain kata-kata najis ada kata yang lebih cocok untuk dikeluarkan seperti, Kurang Bersih dalam pembungkusan dan pengempakan waktu dipasarkan," tegasnya. (MS)

KOMENTAR