Rusyidi Kesal Sikap LPPOM-MPU Aceh Atas Tuduhan Usaha Petani Garam Bernajis


author photo

14 Des 2017 - 14:16 WIB


NET ATJEH, BIREUEN --- Pernyataan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang menyatakan mayoritas garam tradisional bernajis di edisi harian Serambi Indonesia 13 Desember 2017 terus menuai Protes dari berbagai kalangan. 

Ketua Fraksi Partai Aceh (PA) di DPRK Bireuen, Rusyidi Mukhtar S.sos (Ceulangiek) kepada Media Net Atjeh, Melalui Whatsapp Pribadinya, Kamis (14 Desember 2017) menyatakan, sangat kesal dengan pernyataan LPPOM MPU Aceh yang dinilai telah melukai hati petani garam tradisional yang ada di Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen. 

Pernyataan ini dinilai telah mempersekusi petani garam lokal.

"Seharusnya LPPOM MPU terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak dinas terkait sebelum mengeluarkan pernyataan yang berdampak buruk terhadap produk garam lokal," ujarnya. 

"Kita sangat menyayangkan pernyataan LPPOM MPU Aceh yang asal bicara di media tanpa melihat langsung proses pengolahan garam yang ada di Jangka dalam kawasan Kabupaten Bireuen," ungkapnya.

Hal tersebut, tambah politisi PA ini, sangat merugikan Petani garam tradisional yang notabene adalah Masyarakat Miskin. 

"Seharusnya pihak dinas terkait Membina Masyarakat Petani garam tersebut bukan malah membuat pernyataan yang mengkerdilkan Garam lokal dengan alasan belum mempunyai sertifikat Halal," terangnya. 

"Kami di Bireuen sedang mendorong perekonomian Masyarakat pesisir Bireuen salah satunya sektor Usaha Petani garam lokal untuk diperdayakan oleh Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi. LPPOM MPU Aceh malah membuat pernyataan yang merugikan Masyarakat Umum khususnya Petani garam tradisional Jangka Bireuen," tegasnya. (MS)

KOMENTAR