Ekspedisi Militer Belanda Lakukan Pembantaian di Aceh Tahun 1904


author photo

16 Jan 2018 - 13:41 WIB


NET ATJEH --- Tanggal 8 Februari 1904, Belanda memulai ekspedisi militernya ke Gayo dan Alas di Aceh. Lalu terjadilah genosida dan menjadi fase terakhir dari rangkaian panjang Perang Aceh pada Belanda. Namun hal itu tak membuat rakyat Aceh berhenti berjuang melawan Belanda.

Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh siang itu mendadak riuh. Tiga kapal Belanda berukuran besar merapat membawa ratusan orang yang diangkut dari tanah seberang. Tidak kurang dari 10 orang perwira, 13 bintara, serta ahli geologi dan tenaga medis berkebangsaan Eropa turut dalam rombongan tersebut.

Itu belum termasuk 473 orang mandor, puluhan kuli paksa, penunjuk jalan, serta 208 anggota korps Marechaussee te Voet, atau bisa disebut Marsose, yaitu satuan militer sebagai tanggapan taktis terhadap perlawanan gerilya di Aceh.

Korps Marsose bernaung di bawah Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda, tapi korps ini tidak ada ikatan dengan Koninklijke Marechaussee yang ada di Belanda.

Kendati berlabel penjajah, sebagian besar anggota Marsose tersebut justru berasal dari orang lokal sendiri.

Mereka adalah para pemuda yang dipaksa ikut dan diambil dari pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya bahkan hingga kepulauan Maluku untuk dimanfaatkan dan dijadikan sebagai prajurit kolonial, termasuk dalam menjalankan misi penting di Tanah Rencong.

Kita semua pasti tahu, salah satu misi Belanda adalah melakukan politik "pecah-belah" terhadap wilayah yang tadinya bersatu.

Belanda memulai operasi militer pada kali ini untuk mengakhiri Perang Aceh-Belanda, yang telah berlangsung selama puluhan tahun (1873–1904). Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1904.

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen.

Pada 5 April 1873, Belanda mendarat di Pante Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Köhler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira.

Kesultanan Aceh menyerah pada Januari 1904, tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut dipimpin oleh Cut Nyak Dien yang sebelumnya dipimpin oleh Teuku Umar, suaminya.

Hari itu, 8 Februari 1904, Belanda memulai operasi militer ini untuk mengakhiri Perang Aceh-Belanda.

Misi ini sekaligus untuk menangkap Cut Nyak Dien yang masih melakukan perlawanan dengan cara bergerilya.

Yohannes Benedictus van Heutsz selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu memang sangat berambisi menguasai seluruh wilayah Aceh.

Maklum, van Heutsz pernah terlibat langsung dalam Perang Aceh, bahkan sempat menjadi gubernur di wilayah tersebut, tetapi selalu gagal.

Misi Penaklukan Total di Aceh Tahun 1904

Dari Banda Aceh, rombongan pimpinan van Daalen bertolak ke Lhokseumawe yang merupakan tujuan akhir pelayaran mereka. Berikutnya, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang trem menuju Bireuen yang ditempuh dalam tempo sekitar 4 jam.

Dari Bireuen, ratusan orang itu harus berjalan kaki. Jalur satu-satunya untuk mencapai Gayo memang hanya jalan darat dengan medan pegunungan yang sulit di pedalaman Aceh itu. Long march menuju Gayo pun dijalani dengan memakan waktu hingga 163 hari (Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, 1999:229).

Ekspedisi ke Tanah Gayo dan Alas itu sendiri bermula dari laporan hasil riset Snouck Hurgronje bertajuk "Het Gajolan en Zijn Bewoners" atau "Tanah Gayo dan Penduduknya" kepada van Heutsz.

Sang Gubernur Jenderal pun segera merespons dengan menunjuk Gotfried Coenraad Ernst van Daalen sebagai pemimpin operasi militer ke Aceh. Dipilihnya van Daalen tentunya bukan tanpa alasan. Keluarga van Daalen sudah sangat berpengalaman di Aceh.

Ayah Gotfried, van Daalen Sr., pernah menjabat kapten dalam Perang Aceh periode kedua (1874-1880), tapi gagal menyelesaikan misinya. Van Daalen muda pun sangat antusias menerima penunjukan itu sekaligus untuk menuntaskan tugas bapaknya.

Belakangan, Hurgronje justru muak dengan aksi van Daalen yang dinilainya melampaui batas dalam ekspedisi ke Aceh pada 1904 itu. Namun tidak demikian dengan van Heutsz.

Ia bahkan menyebut van Daalen sebagai sosok yang "terkadang kasar dan keras, sangat ketat dan semena-mena dalam aksinya, tapi juga dapat melindungi dan memaafkan."

Setelah melalui berbagai rintangan, mulai dari kondisi medan yang sulit, kian menipisnya cadangan logistik, hingga serangan-serangan mendadak yang dilancarkan oleh kaum gerilyawan, rombongan van Daalen akhirnya sampai juga di tanah Gayo. Misi penaklukan total pun dimulai.

Sesaat setelah tiba, van Daalen langsung mengirimkan surat kepada raja-raja Gayo agar mereka segera menghadap. Van Daalen menghendaki para pemimpin rakyat itu menandatangani "perjanjian takluk" seperti yang telah dilakukan oleh banyak pemimpin rakyat di wilayah Aceh lainnya (Dien Madjid, Catatan Pinggir Sejarah Aceh, 2014:280).

Respons para pemimpin Gayo ternyata di luar dugaan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memenuhi undangan itu. Van Daalen yang murka kemudian menggerakkan pasukan untuk menyisir satu demi satu perkampungan di wilayah tersebut.

Pasukan Belanda menyisir semua daerah itu agar raja-raja dan pemuka masyarakat dipaksa datang. Jika mereka tetap tetap enggan untuk datang, maka moncong senjata yang akan berbicara, alias diancam untk ditembak.

Aksi Pembantaian Massal

Orang-orang Gayo punya ciri khas dalam berperang atau mempertahankan diri. Rakyat Gayo bersikukuh, tidak sudi takluk dan memilih terus melawan. Semua penghuni desa tanpa kecuali berkumpul di benteng-benteng dari bambu dan semak berduri untuk menahan gempuran musuh.

Sebagian besar dari mereka memakai pakaian serba putih untuk menandakan bahwa inilah Perang Suci (The Holy War) melawan kaum kafir. Meskipun dengan senjata seadanya ditambah munajat kepada Sang Pencipta, rakyat Gayo melawan dengan sangat berani dan gagah perkasa sampai titik darah penghabisan.

Mereka berpikir, kapan lagi mendapat kesempatan terbaik ini, lebih baik mati di jalan Allah dan menjadi syuhada, ketimbang menjadi tawanan. Van Daalen sendiri tidak menerapkan taktik khusus, ia hanya memerintahkan agar seluruh musuh dibasmi tanpa ampun.

Dalam suatu penaklukan di salah satu desa di Gayo, ratusan warga dibantai, korban tewas terdiri dari 313 pria, 189 wanita, dan 59 anak-anak. Itu baru korban di satu desa, belum di desa-desa Gayo lainnya(Deli Courant  -1940).

Tak hanya di Gayo, aksi genosida ala Belanda terus berlanjut ke wilayah Suku Alas di Aceh Tenggara. Salah satu insiden paling keji terjadi pada 14 Juni 1904 di Kuto Reh. Menurut Asnawi Ali, mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ada 2.922 orang tewas dalam tragedi itu, yakni 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan, termasuk anak-anak dan orang tua.

Fakta yang lebih mengejutkan sebelumnya justru telah diungkap oleh ajudan van Daalen, J.C.J. Kempees. Dalam laporan berjudul "De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden" (1904), Kempees menyebut bahwa ekspedisi militer Belanda di pedalaman Aceh itu setidaknya memakan korban nyawa hingga 4.000 orang.

Masih dalam laporannya itu, Kempees juga menyertakan foto-foto yang menjadi bukti bahwa telah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang dari Suku Gayo maupun Alas.

Setiap kali usai penyerbuan, van Daalen memang memerintahkan ajudannya untuk memotret tumpukan-tumpukan mayat dengan para Marsose yang berpose di sekitarnya (Dien Madjid, 2014: 282).

Ekspedisi militer Belanda ke pedalaman Aceh tak berhenti hanya disitu, ekspedisi mereka berlanjut hingga ke Tanah Karo di Sumatera Utara. Hal itu boleh dibilang menjadi babak akhir dari Perang Aceh.

Dalam rangkaian aksi tersebut, Cut Nyak Dhien istri Teuku Cik Ditiro, yang melanjutkan perlawanan gerilya suaminya terhadap Belanda akhirnya tertangkap dan kemudian diasingkan ke Sumedang Jawa Barat, hingga wafat di Sumedang pada 6 November 1908.

Cut Nyak Dhien (Anum.), dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia secara anumerta oleh Presiden Sukarno pada tanggal 2 Mei 1964. Anumerta adalah nama kehormatan yang dianugerahkan kepada keluarga istana, bangsawan, dan kadang-kadang orang lain dari negara.

Anumerta juga sebutan bagi seseorang sebagai penghargaan tertinggi setelah yang bersangkutan meninggal dunia atas jasa-jasa sangat besar yang telah dilakukan seseorang demi untuk rakyat dan negara.

Meskipun wanita pejuang Cut Nyak Dien dari Tanah Rencong, sebagai pimpinan rakyat semesta Aceh terakhir telah ditangkap, tetapi para pejuang dan rakyat Aceh di kala itu tak tinggal diam.

Mereka terus melakukan perlawanan terhadap Belanda kendati dalam skala yang lebih kecil. Perlawanan seporadis rakyat Aceh itu berlangsung terus dan terus, bahkan hingga Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942.

Berbeda dengan kasus Westerling dan sejumlah luka sejarah lainnya, hingga saat ini pihak Belanda belum pernah meminta maaf secara resmi terkait pembantaian yang terjadi di pedalaman Serambi Mekkah yang berlangsung selama 3 bulan di tahun 1904 tersebut.

Data-data korban diatas juga baru berasal dari laporan beberapa saksi mata, hanya perkiraan dan tanpa penghitungan yang sangat akurat. Itu pun laporan dan catatan dari beberapa desa saja. Jadi sangat mungkin, bahwa korban-korban pembantaian dalam peristiwa genosida ini jumlanya jauh lebih besar dari perkiraan, bahkan lebih besar dari pikiran kita.

Semua kisah pahlawan-pahlawan asal Aceh memang sangat patrotik. Aceh adalah salah satu "pabrik" para pahlawan-pahlawan nasional yang sangat gagah berani. 

Tak hanya pahlawan pria, namun Tanah Aceh juga sebagai "pabrik" tempat lahirnya pejuang-pejuang wanita yang tak kalah gagah beraninya dengan kaum pria, semua kisah mereka sangat hiroik, membanggakan dan sangat menakjubkan.

Semoga semua korban kekejaman perang berikut para pahlawan-pahlawan yang mempertahankan tanah airnya, wafat secara khusnul khotimah dan mendapat gelar syhuhada. Aamin ya rabbal amin. (

(EraMuslim.com / IndoCropCircles.com / Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, 1999:229 / Dien Madjid, Catatan Pinggir Sejarah Aceh, 2014:280 / Deli Courant-1940 / Dien Madjid, 2014: 282 / Snouck Hurgronje, Het Gajolan en Zijn Bewoners / J.C.J. Kempees, De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden – 1904)
KOMENTAR