Generasi Milenial & Politik 2019


author photo

16 Jan 2018 - 20:47 WIB



NET ATJEH, [OPINI] --- Generasi Milenial di Aceh khususnya, dan Indonesia pada umumnya sangat potensial untuk di angkat, walau demikian mengenai terkait usia milenial ini sendiri masih terdapat perbedaan. Majalah TIME sendiri menilai, milenial adalah generasi yang lahir pada tahun 1980 - 2000. Sementara Newsweek menilai, generasi Milenial lahir pada kisaran tahun 1977 - 1994.

Meskipun dalam hal tersebut masih terdapat perbedaan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa generasi Milenial ialah komunitas yang sarat pemanfaatan saat tahun politik mendekati. Oleh sebab itu pula politisi tidak sedikit yang menyesuaikan diri dan mengklaim bahwa mereka lah yang paling milenial, hal itu disepadankan dengan gaya bersosial media dan gaya berbicara para politisi, bahkan gaya fashion yang mereka tunjukkan ke publik.

Sebuah kewajaran, sebab pada faktanya menurut Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), pemilih berusia 17-38 tahun mencapai 55% pada 2019 nanti. Pemilih dengan rentang usia ini bisa dikatakan sesuai dengan kisaran usia milenial yang disebutkan media-media di atas. 

Gaya hidup Generasi Milenial yang cenderung hedonis terutama dikota-kota besar sudah menjadi rahasia umum, mereka memiliki cara tersendiri untuk meluapkan ekspresi mereka, dunia hidup mereka tidak bisa lepas dari hiburan dan teknologi, terutama internet.

Di Indonesia dan di Aceh sendiri generasi ini bisa dikatakan sebagai generasi yang apatis terhadap isu politik, dan cenderung skeptis menanggapi soliditas yang kompatibel untuk perubahan.

Hal ini tidak terlepas dari perilaku koruptif yang dilakukan oleh para-para politisi. Artinya sikap itu sangat korelatif dengan fakta yang ada, hingga hal tersebut telah menguatkan asumsi mereka tentang politik, dan korupsi ialah hasil dari peranan politik para politisi.

Bagaimana tidak, ini didukung dengan fakta yang menyebutkan bahwa sebanyak 32 persen politisi menjadi tahanan KPK. Sebagaimana yang disampaikan Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan (13/9/2017). 

78 orang Politisi tersebut merupakan kepala daerah, dan 134 orang lainnya merupakan anggota legislatif, baik pusat maupun daerah. 

Sementara di Aceh sendiri korupsi mengalami peningkatan, Di tahun 2017 perkara tipikor sebanyak 65 berkas. Sedangkan tahun 2016 sebanyak 51 berkas. (Humas Pengadilan Negeri/Tipikor Banda Aceh, Eddy SH, 2/1/2018 aceh.tribunnewscom).

Inilah potret korupsi yang tercermin oleh generasi Milenial, sehingga mereka cenderung skeptis dalam menanggapi isu perubahan, terlebih lagi penunggangan politik kian masif menjebak komunitas ini saat mendekati tahun politik 2019.

Sesuatu yang wajar manakala generasi milenial ini menganggap politik itu buruk dan kotor. Pasalnya hal itu tidak terbentuk dengan sendirinya. Akan tetapi mereka disuguhkan mengkonsumsi berita dari media terkait persoalan kasus korupsi yang telah mencoreng wajah politik Indonesia. Jadi, bukan salah mereka apabila anggapan tersebut kemudian muncul ke permukaan, seperti data-data yang terkuak diatas.

POLITIK SOSIAL MEDIA.

Laporan Tetra Pak Index 2017 yang belum lama diluncurkan, mencatatkan ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia. Sementara hampir setengahnya adalah penggila media sosial, atau berkisar di angka 40%. (Detik, 27/9/2017).

Selain itu, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam hasil surveinya menilai, ada tiga media sosial yang paling banyak dikunjungi, dan menurut survei tersebut facebook berada di posisi pertama sebagai media sosial yang paling banyak menyedot pengguna internet Indonesia, dengan 71,6 juta pengguna (54 persen). 

Begitu juga data yang dirilis oleh STATISTA, menempatkan facebook sebagai media sosial nomor 1 berdasarkan jumlah pengguna aktif diseluruh dunia, Facebook memiliki jumlah pengguna aktif sebanyak 2,047 miliar di tahun 2017.

Pun demikian dengan Instagram yang baru saja membeberkan data internalnya perihal pengguna di Indonesia. Tak kurang dari 45 juta orang Indonesia menggunakan media sosial ini secara aktif, serta tercatat sebagai pembuat konten Instagram Story terbanyak di dunia.

Di Indonesia sendiri pengguna internet didominasi oleh generasi muda dalam rentang usia 20-24 tahun dan 25-29 tahun, mereka memiliki angka penetrasi hingga lebih dari 80 persen pengguna internet di Indonesia, Berdasarkan riset yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.

Dalam praktek nya, tidak sedikit masyarakat yang memanfaatkan kecanggihan teknologi sosial media ini sebagai wahana mencari keuntungan, bisnis, politik dan lain sebagainya. Kesesuaian inilah yang memunculkan data sedemikian rupa.

Bila berbicara mengenai politik sosial media, sudah tentu kita akan berhadapan dengan yang namanya "Black Campaign", provokasi dan penyebaran berita hoax. Dan itu sangat tinggi intensitasnya, Wajar, bila kemudian berefek pada generasi-generasi Milenial kita, hingga membuat pola pikir skeptis dan apatis membentuk bola beku yang sulit di cairkan.

Konklusi akhir ialah mereka merasa bahwa memang politik sangatlah "kotor" dan jauh dari esensi sebenarnya. Inilah pengaruh yang berasal dari gelombang milenial tadi, yang secara faktual perilaku generasi tersebut berdampak pada pengguna internet di Indonesia.

Merujuk pada dua dimensi Milenial dan Politik 2019, Sebagai pemuda, kita harus sudah memikirkan bagaimana kondisi ini berjalan sesuai dengan line yang bebar, dan analisis langkah antisipasi ini juga harus menjadi catatan penting bagi pelaku politik di Negeri ini. 

Menyelamatkan generasi Milenial dari apatisme adalah "Prevent Step" mengingat Milenialis inilah yang nantinya akan memimpin Negeri dimasa yang akan datang.

Oleh sebab itu Partai politik dituntut untuk lebih edukatif dalam mempraktekkan skema politik ditengah masyarakat, sudah tentu dengan mengawali sistem kaderisasi yang objektif, teruji dan mumpuni untuk kemudian terjun ke tengah masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa Partai Politik ialah sumber pencetak politisi yang nantinya akan menjalankan sistem Konstitusi Negara, disana (Parpol) terlahir pemimpin masadepan. Bagaimana ini diskapi dengan adanya sebuah arus yang mampu meluruskan koridor politik terhadap apatisme mereka, hingga generasi Milenial kita merasa bahwa politik tidaklah "kotor" dan dapat menempatkan mereka sebagai pelaku politik yang nsionalis, agresif terhadap perubahan dan progresif untuk masadepan.

Disinilah pentingnya Partai Politik dalam mengajak Milenialis untuk berpartisipasi, menanam semangat Kepemudaan dalam sebuah sistem keorganisasian Partai, hingga muncul sebuah Partai yang energik, fresh dan kaya akan ide-ide solutif ditengah keterpurukan sosial.

Sayyid Almahdaly, SHI 
(Penggiat Kepemudaan Aceh)
KOMENTAR